Misteri Gunung Lawu Via Candi Cetho yang Sering Beredar

Juli 28, 2020
misteri gunung lawu via candi cetho

Puncak Gunung Lawu menjadi salah satu tujuan favorit pendaki dari berbagai daerah. Untuk mencapai puncak ada 3 jalur, yaitu Cemara Kandang, Cemara Sewu, dan Candi Cetho. Dari semua  jalur tersebut, jalur ketiga lebih sepi karena ada misteri gunung lawu via Candi Cetho yang banyak beredar di masyarakat. Tak hanya dari masyarakat sekitar, bahkan sudah banyak pendaki mendapat pengalaman mistis di trek pendakian via Candi Cetho ini.

 

Sedikit Sejarah dan Legenda Gunung Lawu

sejarah gunung lawu prabu brawijaya

Sebelum lebih jauh membahas mitos dan misteri Gunung Lawu, sebaiknya kita ketahui sedikit cerita sejarah Gunung Lawu. Banyak legenda-legenda yang menyelubungi masa lalu gunung ini. Salah satunya bahwa Gunung Lawu kerap kali dihubungkan dengan Kerajaan Majapahit dengan alasan keberadaan Candi Sukuh dan Candi Cetho. Terutama pada abad ke-15 Masehi menjelang masa keruntuhan Kerajaan tersebut.

Puncak Lawu diduga menjadi tempat bersemayamnya raja terakhir Majapahit, Prabu Brawijaya V (1468-1478). Brawijaya V merupakan ayahanda dari Raden Patah (1475-1518) yang pada masanya mendirikan Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa, sekaligus menjadi akhir eksistensi Kerajaan Majapahit.

Dugaan tersebut bukan tanpa alasan. Keterkaitan Prabu Brawijaya V dengan Gunung Lawu didasarkan pada beberapa referensi. Salah satunya dari Ensiklopedi Adat-istiadat Budaya Jawa (2007) karya Purwadi. Dikisahkan bahwa kala itu Kerajaan Majapahit harus menghadapi pertempuran dengan Kerajaan Keling (Kediri) pada tahun 1478 yang dipimpin oleh Raja Girindra Wardhana.

Lantaran terdesak dalam peperangan kala itu, Brawijaya V melarikan diri ke Gunung Lawu dan menghabiskan sisa hidupnya sebagai pertapa. Petilasan terakhir Raja Brawijaya V dikenal sebagai Pringgondani. Referensi lain mengungkapkan alasan Brawijaya V menyepi ke Gunung Lawu adalah karena sudah mempunyai firasat bahwa Kerajaan Majapahit di ambang kepunahan dan sulit diselamatkan.

Ditambah pula, Brawijaya V risau karena putranya sendiri, Raden Patah telah memeluk Islam dan membangun kekuatan baru di Demak. Jejak Prabu Brawijaya V di Gunung Lawu dapat ditelisik dari warga desa-desa sekitar lereng Gunung Lawu banyak menganut kepercayaan Budda. Ong Hok Ham pada buku Madiun dalam Kemelut Sejarah (2018) menceritakan, Raden Patah pernah mengutus Raden Alkali, yang tak lain adalah adiknya sendiri untuk mengislamkan warga di lereng timur Gunung Lawu.

 

3 Jalur Resmi Pendakian Gunung Lawu

jalur pendakian gunung lawu

Para pendaki gunung pasti sudah tidak asing dengan jalur-jalur pendakian Gunung Lawu berikut ini. Menurut kalian jalur pendakian mana nih yang paling banyak menyimpan misteri Gunung Lawu?

1. Cemara Kandang

Pendakian Gunung Lawu melalui Jalur Cemoro Kandang sedikit lebih jauh jarak tempuhnya jika dibandingkan via Cemoro Sewu, namun jalur Cemoro Kandang memiliki trek yang lebih landai sehingga bisa digunakan peziarah menggunakan kuda yang disewa dari Tawangmangu. Jalur Cemoro Kandang juga bisa dimanfaatkan untuk goes sepeda gunung.

Pos-pos di jalur ini berupa bangunan beratap yang agak rusak, untuk Pos 1 dan Pos 2 masih dalam kondisi utuh dan saat hari-hari tertentu biasa dipakai sebagai tempat berjualan makanan. Pendakian Gunung Lawu via Cemoro Kandang didominasi tanah merah, sehingga jalur ini bisa menjadi sangat licin saat turun hujan atau sesudah turun hujan.

2. Candi Cetho

Trek pendakian Gunung Lawu via Cetho ini berupa pepohonan yang cukup rapat, ini menyebabkan nuansa gunung dan hutannya tidak seperti saat melakukan pendakian via Cemoro Sewu. Setelah itu kita bakal menemui trek panjang berupa tanah berdebu. Harap mempersiapkan diri karena ini akan sangat sulit dilalui.

Misteri Gunung Lawu via Candi Cetho juga sangat lekat pada para pendaki. Ya, karena tidak sedikit yang menemui pengalaman misterius di sini.

3. Cemara Sewu

Jalur Pendakian via Cemoro Sewu ini menjadi jalur yang lumayan memanjakan perut pendakinya. Di pos 1 saja ada warung, kita bisa leluasa ngisi perut disini. Ditambah terdapat toilet juga lho, jadi tidak perlu bingung jika kebelet mau buang air.

Nah perjalanan sesungguhnya baru akan dimulai selepas kita dari pos 1 menuju ke pos 2. Ini merupakan trek yang sangat panjang. Bisa menghabiskan waktu dua sampai tiga jam bahkan bisa lebih. Di trek ini tenaga kita akan sangat terkuras.

 

Jalur pendakian Gunung Lawu masih ada satu lagi sebenarnya, akan tetapi satu jalur ini bukan termasuk jalur resmi, dan tentunya misteri gunung lawu via Candi Cetho maupun jalur yang lain tak pernah bisa di abaikan.

 


Baca Juga:

Sejarah Museum Angkut Malang, Sejak Kapan Museum Ini Ada?

Misteri dan Mitos Air Terjun Sekar Langit, Legenda Jaka Tarub dan 7 Bidadari


 

Misteri Gunung Lawu Via Candi Cetho

Sebenarnya, misteri yang beredar bukan menjadi satu-satunya alasan, mengingat jalur ini lebih panjang 15 KM. Akan tetapi, misteri ini dari tahun ke tahun masih menjadi misteri sampai sekarang dan belum terpecahkan. Sehingga, para pendaki terutama pemula kebanyakan menghindari jalur ini.

Penasaran apa saja misteri yang menaungi perjalanan menuju puncak Lawu lewat Candi Cetho?

 

1. Misteri Candi Cetho

Membahas mengenai jalur melalui Candi Cetho tentu kurang pas kalau tidak mengetahui tentang candi itu sendiri, betul?

Candi yang berlokasi di Desa Cetho ini dibagun pada akhir kekuasaan Kerajaan Majapahit. Sehingga, alih-alih bernuansa Budha, candi lebih ke kepercayaan yang dianut sekitar yaitu Hindu. 

Misteri yang beredar di kawasan candi ini adalah kamu bisa mengetes keperjakaan. Tentu saja, ini hanya sebuah mitos yang beredar di masyarakat sekitar.

 

2. Jalur Moksa Raja Terakhir Majapahit

Konon katanya, Gunung Lawu menjadi tempat moksa raja terakhir Kerajaan Majapahit. 

Raja tersebut adalah Prabu Brawijaya V, yang kabarnya moksa di kawasan yang sekarang disebut Puncak Hargo Dalem. Moksa artinya melepaskan diri dari kehidupan duniawi serta rantai inkarnasi sesuai kepercayaan agama Budha. 

Puncak ini memiliki ketinggian 3171 Mdpl, dan sampai sekarang masih menjadi tujuan para peziarah. Apa tujuan para peziarah tersebut, tentunya hanya mereka yang tahu.

Sebelum perjalanannya sempat menitipkan pesan kepada Dipa dan Wangsa Menggala untuk menjaga Lawu. Keduanya diberi kekuasaan atas Lawu dan diberi kepercayaan untuk membawahi semua yang ada termasuk hal gaib. 

Daerah kekuasaanya bukan hanya Lawu melainkan sampai barat Merbabu, dan timur Wilis serta Pantai Selatan dan Utara.

Dari keduanya lalu muncul misteri kedua yang berkaitan dengan Sunan Gunung Lawu dan Kyai Jalak. 

 

3. Bertemu Kyai Jalak

Misteri selanjutnya selama pendakian melalui Cetho adalah bertemu dengan Kyai Jalak. Berangkat dari kisah pertama, Kyai Jalak merupakan patih atau tangan kanan dari Sunan Gunung Lawu.

Dari berbagai pengalaman mendaki Lawu via Cetho, tidak semua rombongan bisa bertemu dengan Kyai Jalak. Tidak pasti kapan ia akan muncul atau saat seperti apa, tidak ada yang tahu. 

Hanya saja, menurut masyarakat sekitar, saat Kyai Jalak muncul itu pertanda baik, asalkan kamu tidak mengganggu. Ia akan menuntun para pendaki menuju puncak dengan aman. Akan tetapi, apabila kamu dan rombongan berbuat jahil dan berniat tidak baik maka akan dibuat tersesat di tengah jalan. 

Jadi, asalkan mendaki Gunung Lawu dengan niat yang baik maka kamu tidak perlu takut. Selama semuanya sesuai, maka perjalanan juga akan berjalan dengan lancar tanpa hambatan.

 

4. Pasar Setan

Keangkeran Gunung Lawu yang paling terkenal dan sering dibicarakan, bermula dari pasar setan. Sama seperti namanya pasar, ketika melalui kawasan ini akan terdengar ramai, meskipun tidak ada apa-apa.

Biasanya para pendaki mendengar suara berisik dan ramai persis seperti yang terjadi di pasar. Seakan-akan ada transaksi dan berbagai kegiatan seputar jual beli yang berlangsung disana. 

Misteri satu ini sampai sekarang masih menjadi misteri, meskipun tidak semua rombongan mengalaminya. Hanya saja, mitos yang ebrkembang di masyarkat mengatakan bahwa ketika Anda mendengar hal tersebut lemparlah sejumlah uang.

Pastikan saat melempar uang juga dengan sopan, dan tidak dengan maksud dan niat yang kasar. Kesopanan selama mendaki sangat diperlukan, sehingga satu sama lain perlu saling mengingatkan. 

Apabila ada yang melanggar, tentu satu rombongan yang akan terkena imbasnya bukan? 

Untuk itu saling menjaga agar keadaan tetap kondusif dan berjalan sesuai rencana sangat penting adanya. 

Jangan sampai melakukan tindakan yang merugikan yang bisa memancing hal-hal aneh terjadi. Saat mendaki, Anda menjadi tamu masyarakat sekitar betul? Sehingga tingkah laku juga harus diperhatikan meskipun hanya bersama teman serombongan. 

 

5. Mendaki Jumlah Ganjil

Mendaki dengan jumlah ganjil tidak disarankan ketika akan naik menuju Puncak Lawu. Aturan ini merupakan hal yang tidak tertulis, dan sebenarnya juga tidak wajib untuk dipatuhi. Akan tetapi, masyarakat sekitar tetap menyarankan untuk tidak mendaki dalam jumlah ganjil.

Menurut cerita yang berkembang, mendaki dalam jumlah ganjil akan membawa hal yang tidak baik. Mulai dari kesialan kecil, tersesat, hingga diganggu oleh mahluk ghaib.

Bentuk gangguan bermacam-macam, ada yang hanya melihat ada yang tersasar, dan banyak lagi. Apabila terpaksa mendaki dalam jumlah ganjil, maka tidak disarankan naik di sore hari karena akan terkena Sandekala. Maksud Sandekala di sini adalah waktu antara Maghrib sampai Isya.

Naik pagi, atau menjelang siang, atau bisa juga pagi-pagi buta akan lebih baik dari menuju puncak di sore hari. Toh saat mendaki Lawu tidak perlu terburu-buru, di bagian puncak ada warung Mbok Yem yang terkenal itu. Jadi, kalau sampai kehabisan bekal, kamu bisa memesan sepiring nasi pecel di sana. 

 


Baca Juga:

10 Peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Masa Kejayaannya

Peninggalan Sejarah Kerajaan Tarumanegara Lengkap dan Silsilah Raja-raja


 

6. Bertemu Sosok Misterius

Para pendaki Gunung Lawu, terutama bagi mereka yang memiliki kepekaan biasanya yang akan mengalami hal ini. Apa atau siapa yang ditemui masih menjadi misteri sampai sekarang.

Akan tetapi, menurut cerita-cerita yang beredar di kalangan pendaki, sosok misterius itu memang ada. Hanya saja biasanya memang hanya orang yang memiliki kepekaan yang bisa merasakan dan melihatnya.

Umumnya cerita yang menyebar berkaitan dengan apa yang terjadi dengan pendaki yang melihat. Mereka berkata bahwa setelah melihat sendiri, tubuh menjadi terasa berat. 

Salah satu cerita seram Gunung Lawu yang cukup terkenal, konon katanya pendaki tersebut seperti mengalami hipotermia. Padahal, si pendaki yang merasakan hal itu secara langsung tidak merasakan kedinginan.

Ia hanya merasa berat, dan terus-terusan muntah sehingga sulit bergerak hingga pingsan. Saat pingsan atau tidak sadarkan diri tersebut, tubuh menjadi menggigil mirip seperti gejala hipotermia. 

Apabila hal ini terjadi, sebaiknya jangan memaksakan diri dan turun gunung saja. Saat turun, usahakan juga jangan sendirian, minta temani untuk jaga-jaga apabila ada sesuatu yang terjadi. 

Setelah mengalami kejadian seperti ini dan sampai kembali di base camp, istirahatlah. Biasanya setelah istirahat, masyarakat menyarankan untuk membersihkan diri di Sendang Puri Saraswati.

Membersihkan diri di sendang ini membuat badan terasa lebih enteng dan tenang. Konon katanya sendang ini juga dijaga oleh seorang perempuan cantik yang misterius. 

Itu dia berbagai misteri pendakian Gunung Lawu melalui jalur Candi Cetho yang sering beredar. Benar atau tidaknya misteri dan mitos yang ada, tentunya tergantung kepercayaan masing-masing.

Selalu berhati-hati akan jauh lebih baik bukan dari pada kita menyesal? 

Semoga informasi mengenai misteri Gunung Lawu via Candi Cetho di atas bermanfaat ya. Tetap hati-hati saat mendaki, dan jangan sampai terpisah dari rombongan, menghargai alam dan budaya sekitar juga tetap perlu diperhatikan.