Ini Misteri Candi Cetho dan 6 Hal Menarik yang Harus Kamu Ketahui

Mei 10, 2019
misteri candi cetho
Di satu sisi Candi Cetho memang banyak misteri, namun di banyak sisi candi ini adalah sebuah tempat yang sangat indah.

Candi Cetho – Mungkin kamu perlu tahu mengenai misteri Candi Cetho sebelum berlibur ke sana. Agar kamu bisa lebih berhati-hati lagi dalam bersikap ketika menginjakkan kaki di Candi Cetho ini.

Untuk kamu ketahui, ada beberapa hal yang menjadi pantangan di Candi Cetho bagi para wisatawan atau orang yang memasuki area dalam Candi. Maka dari itu, kamu perlu membaca baik-baik setiap poin dari artikel ini.

Candi peninggalan kerajaan Hindu masa lampau ini sampai saat ini masih sering di gunakan sebagai tempat melaksanakan upacara keagamaan Hindu. Jadi kerap kali wisatawan menjumpai bekas-bekas sesajen di Candi ini.

Dikarenakan saking kuatnya mitos atau misteri Candi Cetho ini, maka banyak juga pantangan di Candhi Cetho yang mesti kamu perhatikan.

Lokasi Candi Cetho

Sebelum bercerita mengenai misteri di Candi Cetho, mitos, dan penunggu Candi Cetho yang membuat kita semua penasaran, sebenarnya di mana sih lokasi candi ini berada?

Candi Cetho yang bercorak Hindu ini berada di perbukitan kaki Gunung Lawu. Tepatnya berada di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Karanganyar.

Untuk sampai ke tempat ini, kamu perlu menempuh perjalanan yang sedikit menantang, maklum tempat ini berada di ketinggian lebih dari 1400 mdpl. Tapi kamu juga akan di suguhkan pemandangan yang super indah selama perjalanan.

6 Hal menarik yang jadi misteri Candi Cetho

1. Sejarah berdirinya Candi Cetho

mitos misteri sejarah candi cetho

Banyak yang sepakat Candi Cetho dibangun pada masa Majapahit, namun banyak juga ahli-ahli yang berkeyakinan situs ini dibangun sebelum jaman Majapahit karena bentuk dari berbagai relief yang lebih menggambarkan kebudayaan Sumeria di banding kebudayaan Jawa.

Penemuan Candi bercorak Hindu ini terjadi pada tahun 1842 oleh Van de Vlies, seorang tokoh ilmuan Belanda. Ada juga nama-nama lain yang ikut meneliti Candi Cetho ini, seperti K. C Crucq, A. J Bennet Kempers, W. F Sutterheim, Roboet Darmosoetopo, dan N. J Krom.

2. Patung yang menjadi misteri Candi Cetho

patung mitos dan misteri candi cetho

Di lihat sekilas oleh kita orang awam mungkin patung di Candi Cetho ini biasa seperti patung pada Candi lain di Indonesia.

Namun bila di analisa lebih seksama, ada beberapa detail yang janggal, gaya rambutnya, perhiasan yang di pakai, gelang dan anting-anting yang besar merupakan ciri khas kebudayaan Sumeria, Maya, Yunani dan Romawi kuno.

Bentuk-bentuk detail patung yang tidak pernah di temukan pada candi-candi lain di Indonesia. Di mana kebanyakan situs candi di Indonesia punya detail patung yang menyerupai orang jawa kuno.

Patung di Candi Cetho juga disebut-sebut mirip dengan patung yang ada di Villahermosa dan Monte Alban, Qaxaca, Mexico. Dan hingga sekarang, Patung Candi Cetho ini masih jadi misteri yang belum terpecahkan.

3. Prasasti berbentuk menyerupai penis

prasasti mirip penis misteri candi cetho

Prasasti ini terletak di puncak candi, di salah satu gubuk tak jauh dari piramida puncak. Kemudian ada juga di bagian bawah candi, disebut dengan Phallus dan berukuran sekitar 2 meter.

Yang aneh dari prasasti ini adalah bentuk skrotum atau buah zakar yang letaknya seperti menempel di samping. Nampak seperti benjolan yang entah apa maksudnya masih jadi misteri hingga saat ini.

Mungkin saja ini hanya merupakan gambaran sederhana, atau ada maksud lain dari bentuk penis yang seperti itu.

Untuk kamu semua, jangan salah sangka mengenai prasasti ini, menurut para ahli, bentuk prasasti ini menunjukkan proses penciptaan manusia.

4. Candi Cetho menghadap ke arah kiblat

candi cetho menghadap ke arah kiblat

Satu lagi hal yang menarik dan masih menjadi misteri Candi Cetho sampai sekarang. Lain dengan candi-candi di Indonesia kebanyakan yang menghadap ke timur, candi ini malah menghadap ke arah barat.

Entah ini karena pengaruh budaya orang-orang pada masa itu yang lebih condong pada kebudayaan Sumeria, atau ada alasan lain di balik arah Candi ini.

5. Tes keperjakaanmu di sini

Mitos Candi Cetho satu ini cukup unik, di mana kamu bisa mengetes keperjakaan di sini. Menurut kepercayaan yang beredar, bila orang yang belum menikah dan belum melakukan hubungan intim akan dengan mudah melalui anak tangga puncak piramida.




Namun, jika orang itu sudah pernah melakukan hubungan intim, maka orang itu akan terlebih dulu kencing di tempat sebelum berhasil masuk ke piramida. Entahlah, tak ada yang tahu pasti kebenarannya.

Namun, bila memakai logika saat ini, maka bisa saja orang yang kencing itu di karenakan hawa dingin di tempat tersebut, lalu di sangkut-sangkutkan dengan masalah keperjakaan.

6. Pasar setan Gunung Lawu

candi cetho dekat pasar setan gunung lawu

Salah satu jalur pendakian Gunung Lawu adalah kawasan Candi Cetho ini, Selain jalur jalur pendakian lain misalnya Cemoro Sewu dan Cemoro Kandang yang lebih akrab di telinga para pendaki.

Yang menjadi masalah adalah, jalur pendakian Gunung Lawu melalui Candi Cetho ini sangat sulit dan di hadapkan pada medan yang ekstrim.

Selain itu, adanya misteri Candi Cetho yang cukup mengerikan, yaitu sering terdengar suara-suara keramaian seperti kerumunan orang di pasar sedang melakukan kegiatan tawar menawar dan jual beli. Entah makhluk apa yang menjadi penunggu Candi Cetho.

Nah, maka dari itu sebagai pendatang atau wisatawan, kita memiliki pantangan di Candi Cetho untuk berbicara tidak baik atau sembarangan. Kesopanan perlu di jaga agar semuanya tetap berjalan kondusif.

Pantangan lain di Candi Cetho ini adalah, kamu tidak boleh memasuki area Candi tanpa memakai kain khusus yang sudah di sediakan. Ini di maksudkan untuk menghormati tempat tersebut sebagai tempat ibadah agama Hindu.

Untuk kalian semua, selamat liburan yaa! Satu yang harus di ingat adalah selalu menjaga sikap di tempat wisata sejarah ini. Mungkin belum tentu benar mitos maupun misteri Candi Cetho yang beredar tentang Penunggu Candi Cetho dan lain sebagainya.

Namun tak ada salahnya untuk kita berlaku sopan. Kita sebagai tamu di daerah lain sudah selayaknya kita lebih hati-hati dan menghargai daerah tersebut.

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *